MEDIAINVESTIGASICare.id – Independen Dan Farmasi Kesehatan | Medan// Opini.
Kado pahit di bulan peternakan yang menyoroti isu Mafia Kartel pangan ayam menari-nari di atas penderitaan rakyat merujuk pada fenomena dugaan praktik kartel pangan, ketidakstabilan harga daging/ telur ayam, serta penderitaan yang dialami oleh peternak mandiri dan konsumen akibat permainan harga di pasar industri perunggasan Nasional.
September diperingati sebagai Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan di Indonesia. Namun, alih-alih menjadi momen perayaan bagi para peternak, momen ini sering kali diwarnai oleh kritik tajam dari para peternak mandiri (skala kecil) dan pengamat ekonomi akibat beberapa persoalan sistemis berikut:
1. Kartel Harga DOC (Anak Ayam) dan Pakan Para peternak mandiri sering kali mengeluhkan adanya dugaan monopoli atau kartel yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar terintegrasi (integrator).
Perusahaan skala besar ini diduga mengatur pasokan serta melambungkan harga Day Old Chicken (DOC) atau bibit anak ayam dan pakan. Akibatnya, Biaya Pokok Produksi (BPP) yang harus ditanggung oleh peternak kecil menjadi sangat tinggi.
2. Anjloknya Harga Jual di Tingkat Peternak (Livebird). Meskipun modal-modal untuk beternak sangat tinggi karena mahalnya pakan dan bibit, harga jual ayam hidup (livebird) di tingkat peternak justru sering kali jatuh bebas di bawah biaya modal produksi.
Hal ini memicu kerugian hingga Miliaran bahkan Triliunan Rupiah bagi para peternak rakyat/ mandiri.
3. Harga Tinggi dan Melambung di Tingkat KonsumenIronisnya, ketika harga ayam di tingkat peternak hancur, harga daging ayam maupun telur di pasar tradisional yang harus dibayar oleh masyarakat (konsumen) tetap saja tinggi.
Ketimpangan ini melahirkan istilah bahwa ada mafia pangan atau kartel yang mengambil keuntungan luar biasa besar di tengah penderitaan peternak kecil dan daya beli masyarakat yang menjerit.
4. Dampak bagi Masyarakat dan Peternak Bagi Peternak Mandiri: Banyak dari mereka yang terpaksa gulung tikar (bangkrut) karena tidak mampu bersaing dengan korporasi besar yang menguasai hulu hingga hilir industri peternakan.
Bagi Rakyat (Konsumen): Masyarakat terpaksa membeli protein hewani dengan harga yang mahal akibat rantai distribusi dan pasokan yang rawan dimanipulasi oleh segelintir oknum pemburu rente pangan.
Naratif tersebut merupakan bentuk protes sosial dan kritik berkala yang disuarakan oleh asosiasi peternak unggas Nasional kepada Pemerintah agar lebih tegas dalam mengawasi persaingan usaha (melalui lembaga seperti KPPU) serta membenahi tata niaga pangan Nasional demi melindungi rakyat kecil.
Amatan awak media Dinas Ketahanan Pangan Dan Peternakan Sumatera Utara bukannya mendorong Satgas Pangan bersama sama menurunkan harga ayam malah membuat acara ceremonial yang banyak sponsor di duga terlibat dalam melonjaknya harga ayam yang membuat emak emak menjerit di saat ekonomi sulit.
Rmd







